Bangga Menjadi Marga Go

Posted : 12 Desember 2013

Saya Go Ke Bun, lahir tanggal 24 April 1959, asli dari Banggai Kabupaten Banggai Laut. Pulau ini terpisah jarak 70 mil laut dari Pulau Sulawesi. Penduduk pulau kecil ini mayoritas bermata pencarian sebagai nelayan. Banggai merupakan kumpulan-kumpulan pulau kecil terpisah dari daratan Sulawesi. Tidak heran jika pulau kami dikelilingi pantai yang indah. Moda transportasi menggunakan kapal laut dan kapal penyeberangan Ferry, membutuhkan waktu delapan jam menuju Luwuk yang terletak di bibir pantai timur Sulawesi Tengah.

Luwuk 14 tahun silam adalah ibu kota kabupaten kami ini memiliki Bandara penerbangan. Jika kami hendak berangkat ke Surabaya atau ibu kota provinsi lainnya harus menggunakan jalur udara dari Luwuk dan transit di Makasar sekitar satu jam lalu ke Surabaya. Total keseluruhan memakan waktu lebih dari dua jam perjalanan. Cukup jauh bukan?. Tentunya anda bertanya-tanya mengapa kami bisa terdampar ditempat ini.

Sejarah eksodus dari Fujian ke Indonesia

Sejarah eksodus dari Fujian daratan Tiongkok yakni Alm. Go Siong Hoan yang adalah engkong saya bersama istrinya,  keluar dari Tiongkok untuk mencari kehidupan usaha yang lebih baik di Banggai. Hal ini karena ajakan temannya yang  menurut pengalamannya sebagai perantau, Indonesia peluang usahanya sangat besar.

Desa Kalumbatang sebuah desa kecil di Pulau Banggai yang mayoritas warganya adalah suku Bajo. Uniknya, rumah tinggal mereka berada diatas air laut seperti rumah panggung. Tiang penyangga rumahnya dari kayu ditancap langsung ke dasar laut, dinding dan lantai dari papan kayu atau bambu, serta atapnya terbuat dari daun aren. Apabila hendak mengunjungi tetangga, mereka harus menggunakan sampan (perahu kecil). Engkong saya bekerja sebagai pembeli atau pengumpul hasil laut di tempat itu

Adalah teripang, sirip ikan hiu, kulit sisik, dan lolak. Hasilnya dijual di Makasar ke tempat exportir. Dari hasil perkawinan mereka, mendapatkan 8 orang anak, 5 diantaranya perempuan dan 3 laki-laki. Ayah saya Alm. Go Sian Eng adalah anak ke 6. Setelah menikah beliau pindah ke Banggai, tempat dimana saya dan saudara saya dibesarkan.

Masa kecil kami yang menyenangkan

Di tahun 1960-an daerah kami belum terjamah oleh listrik masuk desa dan tidak dokter sama sekali, yang ada hanya ada mantri kesehatan. Hubungan transportasi ke Luwuk hanya menggunakan perahu layar dengan waktu tempuh 3-5 hari. Bisa dibayangkan bagaimana terpencilnya daerah kami. Kala itu,  Luwuk terkenal sebagai daerah penghasil kopra, selang 4-6 bulan sekali  kapal angkutan datang untuk mengangkut kopra hingga 5.000-10.000 ton. Kenangan masa kecil saya yang sulit dilupakan adalah kapal besi Tien Lie, berbobot 10.000 ton datang ke daerah kami, seluruh anak buah kapal-nya (ABK) adalah orang Tionghoa. Melihat kapal sebesar itu kami terkagum-kagum. Pengangkutan kopra memakan waktu dua minggu.  Disela-sela itu, kami anak-anak bergelantungan di tongkang naik ke kapal lalu ramai-ramai untuk terjun ke laut. Inilah permainan khas kami yang paling menyenangkan sekaligus memacu adrenalin.

Ada seorang ABK kapal memanggil saya dalam bahasa mandarin karena kurang fasih, saya menyuruh teman menanyakan maksudnya. Ternyata ABK itu ingin memberikan sisa sirup yang botolnya tulisan mandarin semua. Alhasil dengan senangnya saya pulang membawa botol-botol sirup itu di rumah. Itu adalah kali pertama kami merasakan nikmatnya minum sirup.

Saat ini saya bekerja sebagai pengumpul hasil laut. Seperti gurita, ikan kakap, kerapu, kaka tua, sotong untuk dijual ke Luwuk karena saat ini kami belum memilki coolstoreg (ruang pendingin). Daerah saya juga punya potensi hasil bumi seperti kopra, cengkeh, dan coklat.

Awal saya mengetahui adanya Yayasan Margo Utomo

Awal saya mengetahui adanya yayasan Margo Utomo (MU) Suarabaya, yaitu lewat ibu Marto yang datang di Gorontalo kenal dengan adik saya Go Ke Tiong. saat saya ke Surabaya awal Agustus 2013 saya diajak ibu Marto untuk berkunjung di yayasan MU. Sambutan hangat saya rasakan ketika berkunjung ke markas mereka. Saya pun diceritakan sejarah leluhur marga Go, kegiatan sosial yang dilakukan oleh anggota yayasan dan masih banyak lagi.

Setelah itu saya di kenalkan pada bapak Go See Kim, oleh bapak Kim diceritrakan di Surabaya ini banyak marga Go yang sukses seperti kopi Kapal Api, kopi Benteng, kopi Singa, kopi Glatik, dan PT BMI itu semua pendiri serta pemiliknya adalah marga Go. Saya terkagum kagum kopi kapal Api misalnya, selama ini saya hanya melihat iklannya di TV ternyata pemiliknya marga Go.  Saya bahkan tidak menyangka bisa mendapatkan kesempatan ini.

Saya pun berkesempatan mengikuti acara pelantikan pengurus yayasan Margo Utomo di Kowloon International Palaca. Pesta yang begitu meriah dan dihadiri ratusan warga Go. Bayangan saya organisasi Margo Utomo ini dikelola oleh orang-orang yang begitu solid, sesuai dengan motonya Berbakti, Berbagi, Melayani dan Harmoni. Tidak salah jika saya katakan saya bangga menjadi marga Go.

(Go Ke Bun)


comments :

Please Log In to Write Your Comment

0 komentar